Mengapa Orang Terlihat Sangat Serius di Foto Lama?

Pada 1800-an dan awal 1900-an, tersenyum dalam foto dianggap kekanak-kanakan; norma kecantikan menyukai mulut kecil dan sopan.

Hidup lebih sulit bagi kebanyakan orang 150 tahun yang lalu, tetapi itu bukan satu-satunya alasan mengapa Anda jarang melihat orang tersenyum di foto-foto lama. Sampai baru-baru ini, tersenyum untuk kamera, yah, tidak disukai, karena dianggap membuat Anda terlihat konyol, kekanak-kanakan, atau bahkan jahat.

“Dalam seni rupa, seringai hanyalah ciri khas petani, pemabuk, anak-anak, dan orang bodoh, menunjukkan kelas rendah atau kekurangan lainnya,” kata sejarawan Christina Kotchemidova. “Kode etiket di masa lalu menuntut agar mulut dikontrol dengan hati-hati; standar kecantikan juga mengharuskan mulut kecil.”

Statistik tidak berbohong: Menurut penelitian dari Brown University dan University of California, Berkeley, foto sekolah menengah dari tahun 1905 hingga 2013 dengan jelas menunjukkan bagaimana senyum secara bertahap mendapatkan popularitas dari waktu ke waktu. Analisis mereka terhadap 37.000 gambar buku tahunan mengungkapkan tren yang jelas dalam norma untuk foto – dan bisa dibilang untuk sikap Amerika – dari keseriusan hingga kebahagiaan, baik pura-pura atau nyata. Dapatkah Anda membayangkan selfie di mana seseorang tidak tersenyum?

Mengapa tidak tersenyum?

  • Penelitian menunjukkan bahwa tersenyum, suka atau tidak suka, dapat meningkatkan mood dan menghilangkan stres.
  • Karena bahkan anak-anak buta pun tersenyum, para ilmuwan percaya bahwa tersenyum adalah perilaku bawaan, bukan perilaku yang dipelajari.
  • Rata-rata, seorang anak tersenyum sekitar 400 kali sehari, sementara orang dewasa hanya tersenyum sekitar 20 kali.

Related Posts